Isnin, 4 Jun 2018

Kata Imam Syafi’i, Tinggalkan Pendapatku Jika Menyelisihi Hadits

Ketika suatu pendapat manusia berseberangan dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus kita dahulukan adalah pendapat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak seperti sebagian orang ketika sudah disampaikan hadits shahih melarang ini dan itu atau memerintahkan pada sesuatu, eh dia malah mengatakan, “Tapi Pak Kyai saya bilang begini eh.” Ini beda dengan imam yang biasa jadi rujukan kaum muslimin di negeri kita. Ketika ada hadits shahih yang menyelisihi perkataannya, beliau memerintahkan untuk tetap mengikuti hadits tadi dan acuhkan pendapat beliau.

Imam Asy Syafi’i berkata,

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي

“Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”[1]

Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,

أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ

“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”[2]

Imam Syafi’i juga berkata,

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”[3]

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ

“Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.”[4]

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

“Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”[5]

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.”[6]

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”[7]

Perkataan Imam Syafi’i di atas memiliki dasar dari dalil-dalil berikut ini di mana kita diperintahkan mengikuti Al Qur’an dan hadits dibanding perkataan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya” (QS. Az Zumar: 55). Sebaik-baik yang diturunkan kepada kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah adalah penjelas dari Al Qur’an.

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az Zumar: 18). Kita sepakati bersama bahwa Al Qur’an dan As Sunnah adalah sebaik-baik perkataan dibanding perkataan si fulan.

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7).

Dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”[8]

Semoga kata-kata Imam Syafi’i di atas menjadi teladan bagi kita dalam berilmu dan beramal. Tidak membuat kita jadi fanatik dan taklid buta pada suatu madzhab. Boleh saja kita menjadikan madhzab Syafi’i sebagai jalan mudah dalam memahami hukum Islam. Namun ingat, ketika pendapat madzhab bertentangan dengan dalil, maka dahulukanlah dalil.

Wallahu waliyyut taufiq.



@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 5 Rajab 1433 H





[1] Majmu’ Al Fatawa, 20: 211.

[2] Hilyatul Auliya’, 9: 107.

[3] Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63.

[4] Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35.

[5] Hilyatul Auliya’, 9: 107.

[6] Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35.

[7] I’lamul Muwaqi’in, 2: 282.

[8] HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih

Isnin, 29 Januari 2018

Mencintai Ilmu.

Kelebihan orang yang menuntut ilmu


Daripada al-Quran

 فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Terjemahan :

Maka bertanyalah kamu kepada Ahluzzikri (orang yang mengetahui mengenai kitab Allah) jika kamu tidak mengetahui.

Surah al-Anbiya’ ayat 7

فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ

Terjemahan :

Oleh itu, hendaklah keluar sebahagian sahaja dari tiap-tiap puak di antara mereka, supaya orang-orang (yang tinggal) itu mempelajari secara mendalam ilmu yang dituntut di dalam agama dan supaya mereka dapat mengajar kaumnya (yang keluar berjuang) apabila orang-orang itu kembali kepada mereka; mudah-mudahan mereka dapat berjaga-jaga (dari melakukan larangan Allah).

Surah at-Taubah ayat 122

Daripada hadis Nabi Sallahu‘alaihiwasalam

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Terjemahan :

“Sesiapa yang menempuhi satu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memasukkannya jalan ke syurga.”

Hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah 8/729, Ahmad 2/407, Abu Daud (3643), at-Termizi (2646), Ibnu Majah (225), ad-Darimi 1/99, al-Hakim 1/88, 89, al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah (130), Ibn Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm Wa Fadluhu (172).

Berkata al-Iraqi : Hadis ini dikeluarkan oleh Muslim daripada hadis Abu Hurairah.

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

Terjemahan :

“Dan sesungguhnya malaikat merendahkan sayapkan bagi penuntut ilmu kerana reda dengan apa yang dilakukan oleh penuntut ilmu tersebut.”

Hadis riwayat Ahmad 5/196 (21763), Abu Daud (3641), at-Termizi (2682), Ibnu Majah (223), Ibnu Hibban (88) dan al-Baihaqi dalam Syu’ib al-Iman (1696).

Berkata al-Iraqi : Hadis ini dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim dan beliau mensahihkannya daripada hadis Safwan bin ‘Asal.

لأَنْ تَغْدُوَ تَتَعَلَّمُ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ
Terjemahan :



“Demi Tuhanku, sesungguhnya berpagi-pagi kamu pergi menuntut satu bab daripada ilmu itu lebih baik daripada kamu sembahyang  seratus rakaat.”

Hadis riwayat Ibnu Majah (219) dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm Wa Fadluhu (114).

Kata al-Iraqi : Hadis ini dikeluarkan oleh Ibn Abdil Barr daripada hadis Abu Zarr dan sanadnya tidak kuat dan hadis di sisi Ibnu Majah dengan lafaz yang lain.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Terjemahan :

Menuntut ilmu wajib keatas setiap muslim (lelaki dan perempuan).

Hadis riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm Wa Fadluhu 1/9, Ibnu Majah (224), Abu Ya’la (2837), (2903), (4035), al-‘Uqaili dalam ad-Du’afa’ 4/250, at-Tabarani dalam al-Ausath (9), (2007), (2462), (8381), (8834), Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil 6/2091, al-Baihaqi dalam Syu’b al-Iman (1663-1666) dan al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 4/156, 207-208, 7/386. 

الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَمِفْتَاحُهُ السُّؤَالُ، فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيهِ أَرْبَعَةٌ : السَّائِلُ وَالعَالِمُ وَالمُسْتَمِعُ وَالمُحِبُّ لَهُم

Terjemahan :

“Ilmu itu adalah khazanah dan kuncinya adalah bertanya. Maka sesungguhnya diberi pahala di dalamnya (ilmu) itu empat orang : orang yang bertanya, orang alim, orang yang mendengar ilmu dan orang yang cintakan ilmu.”

Hadis riwayat Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyah al-Auliya’ (bab manaqib Muhammad bin Ali al-Baqir) dan al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (693).

Kata al-Iraqi : Hadis ini diriwayatkan Oleh Abu Nu’aim daripada hadis Ali secara marfu’ dengan sanad yang da’if.

لَا يَنْبَغِي لِلْجَاهِلِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى جَهِلِهِ وَلَا لِلْعَالِمِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى عِلْمِهِ

Terjemahan :

“Tidak harus bagi orang yang jahil untuk berdiam diri atas kejahilannya (yakni tidak belajar) dan tidak harus bagi orang yang alim berdiam atas ilmunya (yakni tidak mengajar).”

Hadis riwayat at-Tabarani dalam Mu’jam al-Ausath (5365), ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus (7748). Kata al-Haithami dalam Majma’ az-Zawa’id (751) : “Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tabarani dalam al-Ausath dan dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abi Hamid dan telah sepakat (ahli hadis) atas kedaifannya.”

Kata al-Iraqi : Hadis ini dikeluarkan oleh at-Tabari dalam al-Ausath, Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, Ibnu Sunni, Abu Nu’aim dalam Riyadhah al-Muta’alimin daripada hadis Jabir dengan sanad yang daif.

حُضُورُ مَجْلِسِ عَالِمٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلاةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ ، وَعِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيضٍ ، وَشُهُودِ أَلْفِ جَنَازَةٍ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ؟ فَقَالَ : " وَهَلْ يَنْفَعُ الْقُرْآنُ إِلا بِالْعِلْمِ

Terjemahan :

Menghadiri majlis ilmu lebih baik daripada solat seribu rakaat, mengunjungi seribu orang yang sakit, menziarahi jenazah. Maka berkata seorang sahabat : “Wahai rasulullah, adakah lebih baik daripada membaca al-Quran?” Maka berkata Rasulullah s.a.w. : “Tiada manfaat membaca al-Quran melainkan dengan ilmu.”

Hadis ini maudhu’ (palsu), disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam al-Maudhu’at jilid 1 m.s 362 cetakan Maktabah at-Tadamuriyyah, al-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah Fi Al-Ahadis Al-Maudhu’ah (870), (893), al-Mulla Ali al-Qari dalam al-Asrar al-Marfu’ah Fi al-Akhbar al-Maudu’ah (176), al-Masnu’ Fi Ma’rifah al-Hadis al-Maudhu’ (114), as-Sayuthi dalam Al-Lali Al-Masnu’ah Fi Al-Ahadith Al-Maudu’ah jilid 1 m.s 199-200 cetakan Dar al-Ma’rifah, az-Zahabi dalam Tartib al-Maudu’at (121), Talkhis al-Maudhu’at (120), Ibnu Iraq al-Kanani dalam Tanzih Syari’ah al-Marfu’ah jilid 1 m.s 253 cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Peringatan : Hadis ini adalah hadis maudhu’ (palsu), maka dilarang menceritakan hadis ini kecuali disertai menerangkan kepalsuannya dan hadis ini tidak dibenarkan untuk beramal walaupun dalam bab fadha’il amal (kelebihan amalan).

مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي الْجَنَّةِ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ

Terjemahan :
“Sesiapa yang mati ketika dia sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan agama Islam, maka darjatnya dan darjat para anbiya’ di dalam syurga adalah sama.”

Hadis ini da’if dan diriwayatkan oleh ad-Darimi (366), at-Tabarani  dalam Mu’jam al-Ausath (9454), Ibn Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm Wa Fadluhu (219), al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad jilid 4 m.s 134 cetakan Dar al-Gharb al-Islami, al-Faqih wa al-Mutafaqqih (795), Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasq jilid 51 m.s 61 cetakan Dar al-Fikr dan al-Haitami dalam Majma’ Zawaid (504).

Kata al-Iraqi : Hadis ini dikeluarkan oleh ad-Darimi dan Ibnu Sunni dalam Riyad al-Muta’alimin daripada hadis al-Hasan, dikatakan beliau al-Hasan bin Ali, dan dikatakan beliau al-Hasan bin Yasar al-Basri secara mursal.

 Dipetik daripada kitab Sair as-Salikin illa Ibadah Rabb al-'Alamin oleh Syeikh Abdul Samad al-Falimbani Rahimahullah.



Isnin, 25 Disember 2017

Kisah Riwayat hidup Anas Bin Malik

Sekiranya kita membuka Sahih Muslim atau Sahih Bukhari, nama Anas Bin Malik Al-Ansori agak tidak asing sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yang banyak meriwayatkan Hadith. Namun siapakah Anas Bin Malik ini? Mari kita melihat bagaimana Anas bin Malik ini menjadi salah seorang perawi hadith di zaman Rasullullah dan bagaimana kehidupan Anas bin Malik semasa zaman rasullullah. Ada kajian dan pengiraan yang menyatakan bahawa Anas bin Malik telah meriwayatkan sebanyak 1286 hadith sepanjang kehidupan bersama Rasulullah.
Nama sebenar beliau adalah Anas Bin Malik ibn Nadar al-Khawarij al-Ansori. Anas bin Malik adalah anak kepada Ummu Sulaym iaitu wanita pertama yang memeluk Islam di kalangan penduduk Madinah sebelum hijrah Rasullulah ke Madinah.
Bagaimana Anas Bin Malik menjadi sangat rapat dengan Baginda Rasulullah?
Kisahnya begini…
Madinah gelisah. Semua orang menatap penuh harap ke arah jalan menuju kota makkah. Seperti menunggu sesuatu cahaya dan berharap cahaya ini segera datang dan muncul. Ada rasa cemas dipancaran mata setiap mereka. Ada rasa yang hendak membuncah. Rasa yang tak dapat diterka. Berbahagia atau sebaliknya.
Sesaat kemudian. Tiba-tiba semua orang melompat kegirangan,tua, muda dan anak anak. Semua bergembira. Ditengah mereka seorang ibu bergegas membawa putra ingusannya menuju kerumunan orang banyak. Semua berlomba dan berlari agar mendapat tempat dimana mereka dapat melihat sosok itu sepuas-puasnya. Tak terkecuali ibu dan anaknya tadi. Ikut berhimpitan dengan yang lain agar mendapat tempat didepan.
Semua orang lantas berlumba memberikan hadiah terbaik mereka untuk Rasulullah yang mulia. Ummu Sulaym yang hidup miskin ditinggal suaminya sewaktu Anas masih kecil ingin sekali memberikan hadiah buat Rasulullah tercinta. Lantas Anas bin Malik mendatangi kediaman rasulullah saw dengan membawa putera yang satu-satunya. “wahai rsulullah ,,,Tidak ada di madinah ini baik lelaki mahupun perempuan kecuali mereka yang memberimu hadiah, dan sungguh saya tidak memiliki apa-apa kemewahan yang akan saya hadiahkan untukmu kecuali putera kecilku ini, bawalah ia agar bisa mengkhidmah engkau” ucap Ummu Sulaym berlinang bahagia. Rasulullah saw tersenyum bahagia dan mengusap kepala Anas kecil dan memeluknya.
Semenjak itu Anas kecil senantiasa bersama Rasulullah saw setiap masa di mana jua. Dan Anas bin Malik hidup bersama Rasulullah saw selama sepuluh tahun. Inilah detik dan saatnya, Anas bin Malik menjadi pembantu pemimpin dunia iaitu apabila tibanya Rasullullah di Madinah, ibunya mengarahnya berkhidmat kepada Rasullullah. Ketika ini Anas bin Malik berumur 10 tahun dan apabila Baginda rasullullah wafat umurnya baru mencecah 20 tahun. Maka dalam umur 10 hingga 20 tahun Anas bin Malik mendapat tarbiah secara langsung daripada baginda apabila Anas bin Malik sendiri mengekori rasullullah ke mana sahaja baginda pergi. Oleh yang demikian, tidak hairanlah sekiranya kita dapat melihat bagaimana Anas bin Malik adalah salah seorang sahabat yang faham akan keadaan nabi, tahu akan kesusahan nabi, dan tahu akan sifat dan tingkah laku nabi.
Gambaran akhlak Rasullullah melalui Anas Bin Malik
Berdasarkan pengalaman Anas bin Malik adalah seorang anak kecil yang menjadi pembantu Rasullullah yang diarahkan ke pasar. Ketika mendapati Anas kecil yang lalai mengerjakan tugasnya, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah marah. Namun beliau malah tersenyum. Berikut penuturan Anas:
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling mulia akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling luas kasih sayangnya, suatu hari aku diutus Nabi untuk suatu keperluan, lalu aku berangkat. Di tengah jalan, aku menemui anak-anak yang sedang bermain. Dan aku pun ikut bermain bersama mereka sehingga aku tidak jadi memenuhi suruhan beliau. Ketika aku sedang asyik bermain, tanpa sadar, ada seorang berdiri memperhatikan di belakangku dan memegang pundakku. Aku menoleh ke belakang dan aku melihat rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tersenyum kepadaku lalu berkata, ‘Wahai Unais apakah engkau telah mengerjakan perintahku?’ Aku pun bingung dan berkata, ‘Ya, aku akan pergi sekarang ya Rasulullah!’ Demi Allah, aku telah melayani beliau selama sepuluh tahun dan beliau tidak pernah berkata kepadaku, ‘mengapa kau kerjakan ini? Mengapa kau tidak mengerjakannya?’”.
Unais bermaksud Anas kecil yang diberikan oleh rasullullah kepada Anas. Apa yang dapat kita gambarkan mengenai sifat Rasullullah ini? Seorang yang mulia akhlaknya. Maka hari ini bukan setakat penyakit keturunan adalah “genetik” yang heboh diperdebatkan, malahan akhlak dan peribadi jua adalah salah satu permasalah genetik yang paling sedikit kita persoalkan. Melalui pengalaman yang lalui sendiri, dalam kehidupan kita lihat bagaimana bapa yang pemarah dan bengis, sedikit sebanyak akan mempunyai kesan mental terhadap anaknya yang bakal mewarisi sifat yang sama. Bezanya penyakit genetik ini adalah ia dapat diubah melalui tarbiah jiwa dan rohani. Melihat akhlak Rasulullah yang mulia memberi kesan yang mendalam kepada Anas Bin Malik sehingga beliau diangkat sebagai salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadith.
Apatah lagi memiliki ibu iaitu Ummu Sulaym yang mempunyai kekuatan iman yang hebat. Beberapa kisah yang menyatakan betapa hebatnya keimanan dan ketaqwaan Ummu Sulaym. Antaranya adalah kesanggupannya untuk menyerahkan putera tunggalnya Anas Bin Malik ini untuk berkhidmat kepada Rasullullah. Seorang ibu yang yakin bahawa anaknya akan menjadi orang yang hebat apabila duduk dan bersama dengan orang yang hebat. Peristiwa lain yang memperlihatkan kekuatan iman Ummu Sulaym ini berdasarkan peristiwa beliau dilamar oleh Abu Talha yang merupakan salah seorang saudagar yang terkaya di kalangan penduduk Madinah tetapi belum lagi memeluk Islam. Yang jelas kita nampak pada kekuatan iman Ummu Sulaym apabila meletakkan mahar perkahwinan bukan pada harta Abu Talhah tetapi pada keislaman Abu Talhah sebagai mahar perkahwinan.
Kehidupan Anas selepas wafatnya rasullullah
Selepas wafatnya Rasullullah, beliau adalah antara orang yang sangat sedih. Menjadi pembantu persendirian kepada Rasullullah selama 10 tahun membuatkan dirinya kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Beliau kemudiannya berpindah menjadi ambassador umat Islam, mengajar dan menetap di Basrah. Beliau adalah antara sahabat Rasullullah yang panjang umurnya, dan hidupnya menjangkaui usia 100 tahun lebih. Beliau mempunyai banyak zuriat yang kebanyakannya menetap di Basrah.

dipetik dari blog:  Bicaranya...ialah Senyum

Sabtu, 2 Disember 2017

Sahihkah hadis 3 perkara?

Sahihkah hadis 3 perkara?

🌹 Tiga perkara 🌹

Pada suatu hari Rasulullah saw duduk bersama: sahabatnya & bertanya kepada mereka.

💎 bermulaIah di tanyakan kepada Saidina Abu Bakar:

"apa yg kamu suka dari dunia ini?" dan berkatalah Saidina Abu Bakar ra

aku suka dari dunia ini 3 perkara

💞 1.duduk duduk bersama rasulullah saw.
💞 2.melihat wajah mu ya rasulullah saw.
💞 3.aku korbankan harta ku untuk mu ya rasulullah saw "

lalu rasulullah saw bertanya dengan saidina umar ra. "bagaimana pula dengan mu ya umar?"

jawab Saidina Umar ra. "ada 3 perkara juga yang aku suka:

💞 1.membuat kebaikan walaupun dalam keadaan manusia tidak mengetahuinya.
💞 2.mencegah kemungkaran wlaupun dalam keadaan terang-terangan
💞 3.berkata yg benar walaupun pahit"

"dan bagaimana pula denganmu wahai uthman?"

berkata Saidina Uthman ra.
"ada 3 perkara yang aku suka:

💞 1.memberi makan 
💞 2.memberi salam
💞 3.bersolat malam di waktu manusia tidur"

"bagaimana pula dengan kamu wahai ali ra ?"

"aku juga cintakan 3 perkara:

💞 1.memuliakan tetamu
💞 2.berpuasa di musim panas
💞 3.dan memukul musuh dengan pedang"

kemudian bertanya rasulullah saw pada Abu Dzar. ra

"apa yg kamu suka di dunia ini?" berkata Saidina Abu Dzar ra "aku suka 3 perkara di dunia ini:

💞 1.lapar
💞 2.sakit
💞 3.mati"

kemudian rasulullah bertanya, "kenapa wahai Abu Dzar?"

berkata saidina Abu Dzar ra,
💞 1. "aku sukakan lapar kerana untuk membersihkan hati.
💞2. aku sukakan sakit kerana untuk mngurangkan dosaku.
💞3 aku sukakan maut kerana untuk bertemu tuhanku"

kemudian bersabdalah rasulullah saw "aku cintakan dari dunia ini 3 perkara:

💞 1.wangian
💞 2.wanita yang solehah
💞 3.solat menjadi penyejuk mata ku"

kemudian di waktu itu turunlah malaikat jibril as memberi salam pada rasulullah saw & para sahabat.

kemudian malaikat Jibril mengatakan "aku sukakan di dunia kamu ini 3 perkara" :

💞 1.menyampaikan risalah
💞 2.menunaikan amanah
💞 3.cinta terhadap orang miskin"

kemudian malaikat Jibril naik ke langit & turun sekali lagi ke bumi & berkata "Sesungguhnya Allah swt mengucapkan salam kepada kamu semua & Allah swt berkata sesungguhnya Allah suka pada dunia kamu ini 3 perkara:

💞 1.lidah yang sentiasa berzikir
💞 2.hati yang sentiasa khusyuk
💞 3.jasad yang sabar menanggung ujian"

*AllahuAkbar..

💎 Apa yang kita dengar dapat kita amalkan, kita sampaikan dan kita ambil ikhtibar 💎

Wahai sekalian yang membaca ....

Maka, alangkah baiknya, jika kita dapat sebarkan maklumat ini kepada insan-insan yang kita kenali.

Moga2 bermanfaat & agar ada hati-hati insan yang Allah izinkan bergerak untuk menjadi lebih baik.
In Shaa Allah...
Wallahualam Bissawab. 
Betul ke ustaz?

Jawapan:

Assalamualaikum.

Riwayat ini tidak wujud dalam kitab-kitab hadis yang muktabar. Ia dinukilkan oleh Al-Ajluni dalam Kasyfu al-Khafa' pada muka surat 338-340.

Antara ulama hadis yang menyatakan hal ini ialah Al-Shaikh Abu Ishaq al-Huwaini sebagaimana dalam video di bawah:

Dalam hadis panjang di atas yang TIADA ASALNYA dalam kitab-kitab hadis, terdapat satu potongan yang hampir serupa dengan sebuah hadis yang tsabit, akan tetapi terdapat tambahan lafaz TIGA. Dalam riwayat di atas disebutkan:

Kemudian bersabdalah rasulullah saw

حبب إلي من دنياكم "ثلاث" : النساء ، والطيب ، وجعلت قرة عيني في الصلاة
"aku cintakan dari dunia ini 3 perkara:

💞 1.wangian
💞 2.wanita yang solehah
💞 3.solat menjadi penyejuk mata ku"

Lafaz seperti di atas disebut oleh Imam al-Ghazali dalam beberapa tempat dalam Ihya Ulumuddin.

Lafaz hadis yang ada dalam kitab-kitab hadis ialah:

عَنْ أَنَسٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ 
Anas bin Malik radiallahu 'anhu meriwayatkan Nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ ، وَالطِّيبُ ،
Hal dunia yang dicintaiku ialah wanita dan wangian.

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
Dijadikan penyejuk mata ku ketika solat.
[Sunan an-Nasaie, Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan lain-lain]

Al-Imam Ibnu al-Qayyim menyatakan dalam Zadul Ma'ad jilid 1, m/s 151:

صَحّ عَنْهُ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ أَنّهُ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ حُبّبَ إلَيّ مِنْ دُنْيَاكُمْ : النّسَاءُ وَالطّيبُ وَجُعِلَتْ قُرّةُ عَيْنِي فِي الصّلَاةِ هَذَا لَفْظُ الْحَدِيثِ وَمَنْ رَوَاهُ حُبّبَ إلَيّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلَاثٌ فَقَدْ وَهِمَ وَلَمْ يَقُلْ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثَلَاثٌ وَالصّلَاةُ لَيْسَتْ مِنْ أُمُورِ الدّنْيَا الّتِي تُضَافُ إلَيْهَا .
Telah sahih daripada nabi s.a.w hadis bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Hal dunia yang dicintaiku ialah wanita dan wangian. Dijadikan penyejuk mata ku ketika solat. Inilah lafaz hadis tersebut. Sesiapa yang meriwayatkan hadis dengan lafaz " Hal dunia yang dicintaiku ada TIGA.." maka dia telah keliru. Nabi s.a.w tidak menyebutkan lafaz tiga. Solat bukanlah urusan dunia yang dinisbahkan kepadanya.

Ibnu Hajar Al-Haitami menyebutkan dalam Al-Fatawa Al-Hadisiyyah m/s 643:

قال الزين العراقي وابن حجر والزركشي وغيرهم : ولم تقع في شيئ من طرقه بل هي مفسدة للمعنى فإن الصلاة ليست من الدنيا
Imam al-Zain al-Iraqi, Ibn Hajar dan Al-Zarkasyi dan selain mereka berkata: Tidak terdapat satu pun daripada riwayat hadis ini (yang mempunyai lafaz tiga). Bahkan ia merosakkan maksud hadis ini. Sesungguhnya solat bukan urusan dunia.

KESIMPULAN:
Antara ciri-ciri hadis palsu ialah ia tidak wujud dalam kitab-kitab hadis. Oleh itu hadis ini haram untuk disebarkan kecuali untuk memberitahu ia adalah palsu atau tiada asalnya.

Wallahua'lam.

-ADMIN-

MAULID: ANTARA SEJARAH DAN AMALAN



Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin

Para sarjana sejarahwan Islam berbeza pendapat tentang tarikh sebenar kelahiran Nabi s.a.w. Sementara hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim hanya menyebut bahawa baginda lahir pada hari Isnin tanpa menyebut haribulannya. Sesiapa yang membaca karya-karya sejarah Islam yang besar seperti al-Bidayah wa al-Nihayah oleh al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H) akan melihat berbagai pendapat tentang haribulan dan bulan kelahiran baginda s.a.w.

Bagi yang berpendapat baginda lahir pada Bulan Rabi’ul Awwal, mereka berbeza pendapat pula dalam menentukan haribulannya. Ada yang menentukan pada 8 haribulan, ada yang pada 9 haribulan, ada pula pada 12 haribulan seperti yang menjadi anggapan ramai, ada juga pada 17 haribulan dan seumpamanya. Di samping di sana ada pula sarjana Islam yang menyatakan baginda lahir pada Bulan Ramadan dengan hujah-hujah mereka yang tersendiri.

Apa pun yang penting, sejarahwan Timur atau Barat, Utara atau Selatan tidak pernah berbelah pendapat tentang lahirnya seorang insan bernama Muhammad bin ‘Abdillah yang diikrarkan oleh umat Islam sebagai rasul terakhir yang diutuskan Allah. Hal ini berbeza dengan Jesus yang berada dalam gambaran Barat. Sesetengah ahli kajian mereka mempertikaikan tentang kelahiran Jesus itu sendiri.

Pentingnya Maulid

Kelahiran Nabi s.a.w adalah peristiwa yang amat penting kerana ia peristiwa yang memulakan episod baru bagi kehidupan manusia sejagat. Penentuan haribulan atau bulan secara tepat bukanlah faktor utama. Tidak dapat menentukan tarikh lahir yang pasti, bukan bererti seseorang itu tidak wujud. Entah berapa ramai para nabi, tokoh, individu yang gagal dikesan tarikh kelahiran mereka, tetapi mereka wujud dan telah mewarnai sejarah.

Kegagalan sarjana untuk mengetahui hari dan bulan sebenar kelahiran Nabi s.a.w antaranya berpunca daripada tindakan para sahabah Nabi s.a.w yang tidak merayakan tarikh tersebut. Walaupun dalam sejarah Islam, merekalah generasi yang paling mencintai Nabi s.a.w namun mereka tidak membuat perayaan khas hari kelahiran baginda disebabkan kerana mereka tidak melihat baginda melakukan hal yang demikian. Bahkan Ibn Kathir menceritakan bagaimana Saidina ‘Umar apabila dicadangkan permulaan tahun Islam dikira pada tahun kelahiran Nabi s.a.w, beliau menolaknya. Sebaliknya khalifah agung itu memilih tahun hijrah baginda sebagai permulaan kiraan. Bukan kelahiran tidak penting, tetapi hijrah adalah permulaan kejayaan dan sejarah perjuangan. Perkara yang paling utama buat seorang rasul ialah baginda diikuti, bukan sekadar dirayakan. Saban tahun orang Kristian Barat merayakan kelahiran Jesus, namun apakah kehidupan mereka sama seperti yang diajar oleh Jesus?

Maulid Dan Politik

Hari berganti dan bertukar. Dunia Islam beralun dengan berbagai krisis politik yang akhirnya mencetuskan mazhab. Antaranya Mazhab Syiah yang asalnya merupakan mazhab politik, bertukar menjadi mazhab agama dengan segala macam aliran di dalamnya. Islam sepatutnya mencorakkan politik telah bertukar menjadi ‘politik mencorakkan Islam’. Lalu kefahaman agama dibina di atas blok-blok politik, bukannya reka fikir politik itu yang diwarnakan oleh Islam. Maka perebutan kuasa berlaku atas agenda politik yang dimasukkan unsur Islam ke dalamnya. Maka berselerakanlah umat Islam akibat agenda politik berbagai aliran.

Di Mesir, Syiah Fatimiyyah pernah menguasai tampok kuasa. Berbagai agenda agama dilaksanakan dalam kerangka pemikiran mazhab politik yang bertukar menjadi agama. Berbagai perayaan agama dibuat dengan tujuan untuk mencapai matlamat politik yang tersendiri. Dalam Fatawa al-Azhar diakui bahawa ahli sejarahwan Islam tidak mengetahui sesiapa pun yang memulakan perayaan Maulid Nabi s.a.w melainkan Kerajaan Syi’ah Fatimiyyah di Mesir yang mengadakannya secara besar-besaran. Mereka turut meraikan hari kelahiran tokoh-tokoh Ahlil Bait dan kelahiran Nabi Isa a.s. Kemudian pada tahun 488H dihentikan oleh Khalifah mereka al-Musta’la billah. Kemudian dihidupkan kembali oleh sesetengah kerajaan dan negeri. Demikianlah sejarahnya.

Ya, saya fikir, perasaan bersyukur mengenangkan sejarah kelahiran Nabi s.a.w dengan semangat untuk mengikuti baginda adalah wajar dan wajib. Dalam masa yang sama, kita perlu sedar fakta-fakta yang disebutkan tadi. Jika Bulan Rabi’ul Awwal ini dikatakan bulan kelahiran Nabi s.a.w, maka TIDAK SALAH untuk kita berceramah menceritakan sejarah perjuangan dan prinsip-prinsip Islam yang dibawa oleh baginda. Sama ada pada bulan ini atau selain. Sama seperti apabila kita melintas suatu tempat bersejarah, kita mengenang sejarah tersebut. Cuma janganlah kita ini menjadi manusia bermusim yang hanya mengenang rasul dan ajaran baginda pada hari-hari tertentu, tetapi kita seakan sudah tidak mengingati baginda selepas itu.

Di samping itu, hendaklah kita sedar, jika kita mengikuti Nabi s.a.w, maka pastikan kita tidak menokok tambah ajaran baginda apa yang baginda tidak izinkan. Baginda bersabda:

“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak” (Riwayat Muslim).

Oleh kerana baginda tidak pernah menunjukkan kita ibadah khas sempena kelahiran baginda samada solat khas, atau puasa khas atau bacaan khas, maka kita tidak boleh mengadakannya. Jalan yang patut diikuti dalam masalah ini adalah jalan para sahabah baginda s.a.w. Sabda baginda s.a.w:

“..Sesungguhnya Bani Israil berpecah kepada 72 puak, dan umatku akan berpecah kepada 73 puak. Kesemua mereka dalam neraka kecuali satu puak”. Mereka bertanya: “Apakah puak itu wahai RasululLah?” Jawab baginda: “Apa yang aku dan para sahabahku berada di atasnya”. (Riwayat al-Tirmizi dinilai sahih oleh al-Diya al-Maqdisi).

Sirah Perlu Sahih

Perlu diingat, antara keistimewaan sejarah Nabi s.a.w kerana ia dapat dikenal pasti antara yang tulen dan tokok tambah. Ini berbeza dengan sejarah pengasas-pengasas agama dalam dunia ini yang hampir keseluruhan sejarah mereka dibina atas sangkaan atau perkhabaran yang tidak pasti. Ilmu hadis yang menapis sanad dan matan telah memelihara fakta sejarah nabi kita Muhammad s.a.w. Hanya sejarah yang pasti sahaja yang menjadi ikutan kita, bukan yang direka. Kata al-Sayyid Sulaiman al-Nadwi:

“Sesungguhnya sirah yang berhak diikuti oleh manusia sebagai contoh yang baik dan teladan yang tinggi disyaratkan terlebih dahulu mestilah bersifat tarikhiyyah (sejarah). Adapun sirah yang tertegak diatas dongengan dan cerita-cerita khurafat yang tidak disokong oleh riwayat-riwayat yang dipercayai kesahihannya, adalah menjadi tabiat insan tidak akan terpengaruh dengan apa yag diceritakan kepadanya tentang sirah peribadi yang direka sedangkan sejarah tidak pernah mengenalinya” (Sulaiman al-Nadwi, al-Risalah al-Muhammadiyyah, m.s. 41, Saudi: al-Dar al-Sa`udiyyah).

Buku Maulid al-Barzanji yang banyak dibaca dalam masyarakat kita ketika majlis kenduri-kendara atau selainnya mempunyai sumbangan yang tersendiri. Banyak sirah yang sahih dicatatkan oleh penulis karya tersebut iaitu Ja’far bin Hasan bin `Abd al-Karim al-Barzanji (meninggal 1187H). Namun satu hakikat yang boleh dinafikan dari segi ilmu hadis bahawa terdapat fakta-fakta yang tidak sahih dalam buku al-Barzanji tersebut. Antaranya, beliau menyebut: “Telah hadirlah pada malam kelahiran baginda (Nabi s.a.w.) Asiah (isteri Fir`aun yang beriman) dan Maryam (ibu Nabi Isa a.s.) dalam kumpulan wanita dari syurga)”. Tiada satu riwayat yang sahih daripada Nabi s.a.w yang mengakui peristiwa seperti ini. Sehingga seorang pengkaji sejarah Muhammad Muhammad Hasan Syurrab menyebut:

“Wajib kita berhati-hati ketika memetik dari buku-buku sirah terutamanya buku-buku sirah yang terkemudian. Para rawinya (periwayat) banyak menokok tambah cerita dan sirah Rasulullah. Mereka mengaitkan kepada baginda mu’jizat dan perkara-perkara luar biasa sejak kelahiran sehingga kepada kewafatan baginda dengan perkara yang tidak ada sanad yang boleh dipegang. Seakan-akan para rawi ini melihat tujuan penambahan perkara-perkara luar biasa ini untuk memberikan kepada Rasul a.s. mu’jizat-mu’jizat yang tidak ada pada para nabi sebelum baginda (Muhammad Muhammad Hasan Syurrab, Fi Usul Tarikh al-`Arab al-Islami, m.s. 84, Damsyik, Dar al-Qalam).

Kita semua bersyukur dan bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Namun kita wajib pastikan cara kita ikut dan faham mengenai baginda bertepatan dengan ajaran Islam yang sebenar. Saban tahun banyak pihak yang meraikan maulid, apakah umat Islam bertambah dekat dengan baginda? Ertinya, kita belum boleh berpuas hati sekadar sambutan tanpa langkah lain yang lebih berkesan.

Selasa, 4 Julai 2017

APOCALYPTIC CARNAGE Devouring Demons Demo Promo Shows 2017











Friendly Fight - Penvia PJCC Petaling Jaya SELANGOR (May 21st)

HellStage - HOSHA Nilai, NEG.SEMBILAN (July 15th)

E/W GrindCore Finale - Rockin' Jamm Masai JOHOR (July 22nd)

BMM VIII - Metalhead​ Port Kajang SELANGOR (Sept 9th)

A Dangerous Meeting - Metalhead Port Kajang SELANGOR (Oct 14th)

USAH TERPESONA DENGAN KELEMBUTAN AKHLAK PARA PELAKU BID'AH DAN SYIRIK



Ramai di kalangan umat Islam khususnya orang awam mudah terikut-ikut dengan fahaman dan amalan yang dibawa oleh Ahli Bid’ah disebabkan oleh sifat akhlak dan ibadah yang ditampilkan olehnya.


Padahal semua ini adalah gimik atau helah Ahli Bid’ah tersebut bagi mengelabui mata orang awam dari melihat kebatilan yang dibawa oleh mereka, disamping mengharapkan sanjungan dan pujian daripada orang awam terhadap akhlak dan ibadah mereka.

Disebutkan di dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah 1/233-234, no. 325 bahawa ada seorang lelaki mengadu kepada al-Imam Ahmad rahimahullah berkenaan seorang lelaki tua yang suka bergaul dengan salah seorang tokoh bid’ah, Harith al-Qashir yang dilihatnya sebagai seorang yang lembut akhlaknya, khusyuk dalam ibadah dan pelbagai kebaikan lainnya. Mendengarkan yang demikian, al-Imam Ahmad rahimahullah dengan marah berkata kepadanya:

Janganlah kau tertipu dengan kekhusyukan dan kelembutannya. Dan jangan kau terpedaya dengan kebiasaannya menundukkan kepalanya (iaitu menzahirkan sifat rendah dirinya) kerana sesungguhnya dia adalah lelaki yang jahat (Ahli Bid’ah). Dia itu tidaklah mengetahuinya kecuali yang telah berpengalaman dengannya!.

Sehubungan dengan hal ini, Syeikh Walid bin Muhammad Nubaih menulis di dalam kitabnya, Syarhu Ushulu Sunnah, ms. 53:

Sebahagian orang tertipu dengan Ahli Bid’ah disebabkan kezuhudan dan kekhusyukan serta tangisan atau selainnya dari banyaknya ibadah yang mereka lihat pada mereka. Akan tetapi hal ini bukanlah suatu barometer yang benar dalam mengetahui kebenaran. Nabi telah bersabda kepada para sahabatnya, menyebutkan sebahagian sifat Ahli Bid'ah:

يُحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ قِي صَلاَتِهِ، وَصِيَامَهُ فِي صِيَامِهِ.

Salah seorang di antara kamu merasa hina solatnya (jika) dibandingkan solat mereka (Ahli Bid’ah Khawarij) dan puasanya (jika) dibandingkan puasa mereka. - Shahih Muslim, no. 1064.

Telah diriwayatkan dari al-Auza’i, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahawa barangsiapa yang berbuat bid’ah yang sesat maka Syaitan akan menjadikannya cinta beribadah dan meletakkan pada dirinya rasa khusyuk dan menangis agar ia dapat memburunya.

Dalam pada itu, al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menulis di dalam kitabnya, Fath al-Baari 12/283 dengan katanya:

Orang-orang Khawarij (Ahli Bid’ah) ini digelar al-Qurra’ (para pembaca al-Qur’an) disebabkan kesungguhan dan ketekunannya dalam membaca al-Qur’an dan beribadah. Hanya saja, mereka salah faham dalam mentafsirkan makna al-Qur’an dan lebih mengkedepankan pendapat peribadi. Di sisi lain, sikap mererka sangat berlebihan di dalam menjalankan kezuhudan, kekhusyukan serta ibadah lainnya.

{PENGAJARAN PENTING}:

Baik atau tidaknya akhlak seseorang hendaklah diukur berdasarkan al-Qur'an dan al-Sunnah yang sahih, BUKAN dengan persangkaan dan perasaan semata atau gelaran agama yang disandang olehnya serta kemasyhuran yang diraihnya di sisi masyarakat. Juga bukan dengan kemasnya jubah dan serban yang dipakainya serta kelembutannya dalam berbicara.

Jika seseorang itu telah terbukti penentangannya terhadap sunnah Nabi dan para pendakwah sunnahnya, dan pada waktu yang sama tegar dalam membela kesyirikan serta bid'ah, apakah masih boleh dikatakan bahawa mereka ini adalah baik di sisi Allah dan Rasul-Nya sehingga kita mengangkat dan mengagung-agungkan mereka?

Apakah lagi sifat angkuh yang lebih besar selain daripada keangkuhan untuk tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya?


Halaman